Bewara Kasadayana, Hajatan Seni/Budaya Nyiar lumar kembali dilaksanakan pada tanggal 23 s.d 24 Agustus 2008 Bertempat di Astana Gede Kawali Ciamis dimulai pukul 16.00 s.d selesai. berbagai kegiatan seni akan ditampilkan, mulai dari seni tradisi sampai kontemporer. Untuk itu kepada yang berminat mengikutinya kami tunggu disana.
Agustus 10, 2008
Surat Terbuka
Diposting oleh Srangenge di 8/10/2008 06:38:00 PM 0 komentar
Peziarah: Agenda
Juli 05, 2008
Risalah Perjalanan
Hembuskan isyarat pada kami
Tentang bagaimana keluasan cakrawala mengajarkan kembali
Kita untuk mulai membaca peta dan rahasia
Mulai merapikan kembali harapan
Dengan lanskap yang berbeda.
Mulai kudaki setapak demi setapak
Lingkaran waktu
Yang kian memanjang jaraknya
Membenamkan kenangan dalam air mata kerinduan.
Kawan, pertemuan selalu melahirkan perpisahan
Namun derai kerinduan jugalah yang kelak mempertemukan kita.
Karena Hidup adalah keluasan cakrawala
Dan kelepak burung takkan berhenti hanya di satu sarang
kita pun akan terus berziarah sebagai burung-burung kecil
yang mulai belajar terbang
membaca cuaca dan peta.
Selamat tinggal, kawan
Lewat kelepak jibril ku kutitipkan doa
Semoga tiba di peluk cinta kasih semesta.
juni 2008
Diposting oleh Srangenge di 7/05/2008 08:29:00 PM 0 komentar
Peziarah: Gunawan alfansuri
Juni 07, 2008
Orkestra Tanah Kubur
Aroma kemboja membangunkan maut
Pulas pada rumpun malam pada ranjang
Muntah birahi
Gerai rambut kusut dibelai angin
Ia menjerit melengking menggapai langit
Tangan luka urat dari tanah
Ia dikuburkan bulan di subuh merah
Diratapi angin tenggara
yang tersesat dalam rimba kembara
Beri aku bunga untuk meredam dosa
dari segala pembalasan
Segala yang dibongkar. Rengkah kuburku
Mengguyur gerimis temaram bulan
Ia menangis tersedu mengisak. Meresap
Ke angin angin
Dan di rumah kematian orang bertangisan
Berlari
Meringkik kuda memecut udara
Maut masih terus memburu.
Diposting oleh Srangenge di 6/07/2008 07:05:00 PM 0 komentar
Peziarah: Osca Ch' Azami
Noktah hujan
Gerimis mencatat kerinduannya yang jauh
Pada pohon palma pada senja kota
Dalam kekosongan ruang
Selarik puisi belum juga selesai. Apa yang bisa kutulis
Hanya suara hujan
Menenggelamkan hari jadi malam
Menanggalkan puing reruntuhan dalam jiwaku
Sisa perang yang belum usai
Gerimis mencatat kerinduannya yang jauh
Dalam lubuk hatiku
Menyimpan nestapa pada angin tak sampai
Pada reranting pohon yang telah tumbang
Dikutuki kekalahan pada hidup.
Diposting oleh Srangenge di 6/07/2008 06:58:00 PM 0 komentar
Peziarah: Osca Ch' Azami
Juni 06, 2008
Silence Song
Sunyi kekal di dada
Air mata serta percakapan sepanjang sejarah
Mengental di tanah merah
Kata-kata menguap di bibir kering
Mengutuk awan yang tergesa pergi
Di terik hati yang terus meluncurkan
Perih. Adakah yang tertangkap langit
Dari hujan yang menahan nafas dari gairah kejatuhannya Setelah seharian membungkus nyeri dengan puisi
Tak ada isyarat selain
udara yang melesat bagai peluru
Nancap di dada
Di tangisan anak-anak yang lapar
Mengalirkan duka
Di karatan waktu yang mengalirkan
Sunyi sampai ke lautan
Tempat semua doa bermula
Garut, Mei 2008
Diposting oleh Srangenge di 6/06/2008 09:04:00 PM 1 komentar
Peziarah: Gunawan alfansuri
Di Pusaramu
Wajah yang sendu
sedang apa hatimu
tanda rindu yang terlalu
2
Pada saatnya semua beranjak
dari ranting yang dulu kuat
mendekap. Angin asing kini bergelandang
yang mungkin akan membawa ke entah
kau lihat lembayung itu?
Ia telah menunggu sejak tadi
Kemarin pagi.
3
Menjalani siklus. hidup adalah peradaban
Tuhan. yang bernama makhluk menjalani
semesti dan meski tetap berkehidupan
karena kesementaraanlah yang bikin kita
berhasrat tetap berlaga
4
Perjalanan tanpa peta. Kehidupan
Seperti teka teki karena kita doyan
dengan misteri dengan akhir tak terduga
Peristiwa demi peristiwa berlangsung
Alami.
5
Akulah peluru. Aku melihat
Peluru melihat aku. Peluru berhamburan
dari moncong kekerasan, berhamburan
menembusi jantung kelembutan
6
Dan selama kepanaan menjadi selimut
Abadi. Kilau itu pun segera sirna. Bulan
boleh tersenyum pada malam tapi begitu
matahari terbit bulan pasi bahkan mati
muncul kembali di abad lampau
7
sebagai batu tak beribu, berada di sungai
berlumut dan luput dari ingatan, namun
sebagai batu ia tahu siapa yang menjadikannya
berada di sungai jauh dari ramai
8
ada suara berloncatan. Angin mempercepat pertemuan
di pohon tua. Air yang dikucurkan meresap
dihisap malam menghadirkan benderang
tapi wangi bunga itu tak sampai sampai
ke pantai-ngaraimu
9
Kisahmu masih berlaku setelah kau kembali
ke rumahmu yang tak ditumbuhi pepohonan
kebun belakang peristirahatan panjang
harimu telah selesai
10
Tinggal burung-burung hantu warna emas
emas bersepuh ketakutan dan harapan
untuk berulang ke mula
namun tembakan itu jitu
tepat ke bisu.
Januari-November 2004
Diposting oleh Srangenge di 6/06/2008 08:35:00 PM 0 komentar
Peziarah: F. Seahna Jaladri